Breaking

United We Ball – Lebih dari Sekadar Bermain Basket

Sekitar Kita / Slider / February 6, 2019

Hujan siang itu deras mengguyur kawasan Cilenggang yang letaknya bersisian dengan BSD City, Tangerang Selatan. Situasi yang menyulitkan para siswa SDN Cilenggang 01 untuk kembali berkumpul di sekolah selepas jam pelajaran usai. Nyatanya, mereka berdatangan satu demi satu. Sebagian berpayung, ada yang melepas sepatu, dan yang tinggal dekat dengan sekolah, memilih berlari menerobos hujan. Melintasi lapangan terbuka, anak-anak ini berkumpul di lorong depan kelas. Berasal dari kelas 5 dan 6, sebanyak 14 orang siswa, laki-laki dan perempuan di sekolah ini, sejak September lalu, setiap hari Selasa berkumpul untuk berlatih bola basket.

Meski jelang latihan turun hujan lebat, pelatih dan anak didiknya tak ragu berpose di lapangan SDN Cilenggang 01.

Tak tampak ada lapangan basket di sekolah dasar ini. Bukan di sana, karena setelah semua lengkap berkumpul, mereka melanjutkan perjalanan ke arah BSD City, kurang dua kilometer dari sekolah mereka, persisnya menuju kampus Sinarmas World Academy atau kerap disebut SWA. Di situ telah menanti beberapa siswa, merekalah yang menjadi pelatihnya, dan Middle School & High School Gymnasium adalah tempatnya. Sudah barang tentu tidak berhujan-hujanan. Bermula tahun 2016 silam ketika sejumlah siswa yang anggota tim basket SWA mencari bentuk kegiatan community action service, yang tak jauh dari minat mereka.

Jadilah bola basket yang terpilih, “Kenapa tidak sekalian membuat organisasi yang bisa membantu anak-anak lain untuk bermain basket. Terutama disekitar sekolah yang tidak memiliki dukungan fasilitas memadai,” kata Billy Liandy, salah satu pendiri United We Ball, sekaligus president pertama organisasi itu. Menyempatkan hadir saat masa liburan, mantan point guard SWA yang kini berkuliah di Monash University, Australia ini masih punya keterikatan dengan UWB yang sekarang dijalankan oleh adik-adik kelasnya.

Tiba di kampus. Di musim hujan, cuaca kerap menjadi kendala untuk mengumpulkan semua peserta latihan.

Jangan mengira UWB semata tempat para pebasket berkegiatan, karena mereka yang bukan atlet basket sekolah pun turut aktif di dalamnya. “Saya menyukai aktivitas sosial, berorganisasi, dan mengajar anak-anak. Saat datang tawaran untuk bisa melakukan semua itu, saya tidak bisa menolaknya,” ujar Daniel Sawai menjelaskan kenapa dirinya yang bukan atlet basket SWA memilih bergabung di sana, bahkan kini menempati posisi Wakil Presiden UWB. “Karena yang jadi tujuan awal organisasi ini adalah membantu dan berbagi,” sebutnya.

Meski resminya dikelola oleh siswa kelas 11-12, kehadiran dirinya yang masih berada di kelas 10 memperlihatkan para aktivis UWB tak mengabaikan regenerasi. Tentang hal ini, Billy mengatakan, beberapa pengurus asal kelas 12 – yang mendekati kelulusan, dan semakin sibuk dengan studi mereka – masih hadir mengawal transisi organisasi ke adik-adiknya di kelas 11 dan 10.

Biarpun lebih suka main sepakbola, minatnya berorganisasi membuat Daniel Sawai diajak dan mau bergabung ke UWB.

Sementara Sekretaris UWB, Brigitta Valentia Sharon yang duduk di kelas 10, bergabung di UWB karena minatnya pada bola basket sekaligus rekomendasi dari kakak kelasnya. Ia menyebut jika kesibukan studi membuatnya kesulitan beraktivitas sebagai anggota tim basket sekolah, tapi karena ada UWB, ia tetap dapat menyalurkan minatnya dengan melatih. “Meskipun lebih sukar dibandingkan bermain sebagai atlet, saya suka bertemu dengan orang baru. Jadi saya menikmati aktivitas melatih.” Bahkan ia tak berkeberatan jikalau para siswa SD ini, justru kemudian mampu mengalahkan pelatihnya. “Artinya yang kami lakukan berhasil,” ungkapnya diiringi senyum.

Mengawali dengan doa bersama, peregangan dan pemanasan, berlanjut ke penguasaan teknik dasar melalui cone dribbling drills hingga ditutup dengan internal game, para peserta bersama pelatihnya sore itu menampilkan bahwa bola basket tak melulu kompetisi, tapi berisikan pula komunikasi, kerja sama, juga kegembiraan. Semua yang berkumpul di gym tak mengkhawatirkan dribble yang kadang lepas, passing yang keliru atau shooting yang luput.

Ball handling, seperti ini kami melakukannya.

“Senang. Kalau bisa, setiap hari latihan di sini,” kata Kayla Zahra Tussita yang mengaku langsung mengajukan diri, saat SDN Cilenggang membuka pendaftaran peserta latihan. Kalau sebelumnya siswa kelas 5 ini  baru sebatas melihat kakaknya bermain, kini ia merasakan sendiri seperti apa berlatih bola basket. Mirip dengan Ayla, Muhamad Adiputra Surya yang duduk di kelas 6, juga bergegas mendaftar begitu sekolahnya bermitra dalam UWB. Mengaku selama ini bola basket baru sebatas tontonan, di dalam internal game ia justru terlihat dominan dengan bola. Itu sebabnya, pelatih memintanya bermain di posisi guard. “Saya senang mengoper,” begitu Adi.

Danu Tirta Pamungkas, guru pendidikan jasmani SDN Cilenggang, mengatakan,  mengikuti aktivitas UWB adalah perkenalan pertama anak didiknya dengan cabang bola basket di lapangan. Sebuah kebetulan yang menyenangkan, karena siswa kelas 6 yang baru mulai mendapatkan materi pendidikan bola basket, namun belum bisa maksimal mempraktikkan teori yang diperoleh, mengingat sekolah belum memiliki lapangan basket, di waktu yang berdekatan justru terjaring oleh kemitraan UWB.

Itu sebabnya, Danu mengingatkan agar jangan terburu-buru mengukur keberhasilan program UWB dengan kemampuan bermain para siswanya yang ikut berlatih. “Yang langsung terlihat dari para siswa peserta latihan adalah respon motorik mereka yang berada di atas rekan-rekan lainnya,” ungkap lulusan ilmu keolahragaan Universitas Negeri Jakarta yang belum genap setahun mengajar di SDN Cilenggang ini.

Karena skill bermain masih dibangun, waktu pertemuan habis untuk latihan teknik dasar. Buat mengatasi kejenuhan berlatih, pertandingan uji coba jadi pilihan. Di sini, UWB harus jeli mencarikan lawan. Jangan sampai terjadi pertandingan yang tak berimbang, berdampak runtuhnya moril, minat dan kebahagiaan anak-anak Cilenggang. “Mereka pernah melakukan friendly game dengan siswa SD kami. Meskipun kalah pengalaman, mereka gembira,” papar Billy.

 

Cross over dribble ada juga di sini.

UWB, Howard Sulisthio yang sekarang duduk di kelas 11 mengatakan, para pelatih harus menyusun program berjenjang yang tak sekadar membentuk ketrampilan, namun juga memenuhi hasrat bermain anak didiknya. Siswa kelas 5 dan 6 memang belum bisa dibawa latihan kelewat serius. Hal ia maknai dengan positif, “Karena membantu meningkatkan kapasitas kami sebagai atlet basket sekolah.” Selaku ketua organisasi, masih ada tanggung jawab tambahan bagi dirinya.

HW begitu ia akrab disapa, juga harus menyusun program bagi para pelatih, sesama siswa, yang disibukkan dengan studi serta ragam kegiatan lain. “Awalnya saya hanya berupaya memenuhi requirement dari sekolah. Tapi begitu mencobanya, saya mulai terpikat. Hingga kini, saya belum pernah absen dari kegiatan UWB. Melihat senyum kami dan anak-anak saat latihan rasanya sangat berharga,” ia menceritakan perjalanannya dengan UWB. Mungkin terkesan dramatis, tapi nyatanya, semua bergembira.

Howard Sulisthio. Melatih anak-anak, tak bisa meninggalkan unsur fun.

Jelang tahun ke-3 UWB berkegiatan, ujian bagi para aktivisnya tidak bisa dibilang ringan. Mulai dari meyakinkan pihak sekolah via proposal dan presentasi, menyusun materi latihan, menyurvei sekolah mitra, ganti  mempersentasikan program ke hadapan mereka, hingga menjalankan kaderisasi, berlangsung di sela kegiatan belajar. Tapi itu belum semua, aktivis UWB mesti kreatif menggali ide guna menggalang pendanaan. Asal tahu saja, tak ada kucuran dana dari sekolah di sana. Siswa harus membiasakan diri menggelar fund raising secara mandiri.

SWA memang memiliki agenda berkumpul bersama atau yang cukup padat dan beragam. UWB dengan jitu memanfaatkannya, dengan raihan yang tak bisa dianggap lalu. “Selama ini kami memanfaatkan kegiatan yang berlangsung di sekolah dengan mendirikan stand, menjual makanan dan minuman, bake sale dan sejenisnya,” kata Billy.

Bagian paling menarik dari latihan, tak lain dan tak bukan: internal game.

Sementara Daniel menyebut, fund raising melalui berjualan meski tampak sederhana, tapi harus atas seizin pihak sekolah. Dimana manajemen mesti mengetahui ragam barang yang dijual di areal sekolah. Karena tak sembarang barang boleh dibawa masuk ke sana. Bahkan orang tuanya sempat kaget (mungkin juga kagum) saat mengetahui dia dan teman-temannya aktif menggalang dana untuk organisasi. “Kelas 10 sudah melakukan fund raising?” Begitu ia menirukan komentar orang tuanya.

Howard, meski tidak menyebutkan jumlahnya, menyatakan, dana yang dikumpulkan oleh pendahulunya cukup memadai. Terlihat, UWB hingga kini mampu memberikan subsidi dana transportasi bagi para siswa SD yang mereka latih. “Tantangannya adalah mampu melakukannya seperti kakak kelas kami dulu,” ujar sosok yang mengisi posisi shooting guard SWA ini. Kabar baiknya, mereka mendapat informasi jikalau inisiatif yang bernaung dalam community action service seperti UWB, nantinya berpeluang mendapatkan dukungan dari sekolah melalui skema pendanaan corporate social responsibility. Jelas, ia  dan rekan-rekannya membidik skema ini, selain tetap menjalankan cara lama – namun efektif – dengan berjualan.

Jangan dikira pihak sekolah melepas bebas begitu saja para pebasket muda ini. CAS Coordinator, Ahmad Putera mengatakan, setiap semester, para siswa yang terlibat dalam program community action service mesti melewati  wawancara dengan CAS Advisors serta CAS Coordinator yang ada. “Wawancara dan kajian terhadap CAS Experience portfolio seluruh siswa menjadi bahan evaluasi sekolah, apakah kinerja serta capaian kegiatan mereka memenuhi syarat CAS Learning,” ujar Ahmad.

Kalau ada internal game, berarti harus ada arahan dari pelatih di kala time out

Menurutnya, terdapat sejumlah kriteria yang harus terpenuhi oleh para siswa dalam berkegiatan. Mulai dari  mengidentifikasi dengan tepat kemampuan dan kelebihan yang mereka miliki, kemudian memanfaatkan sekaligus membuatnya semakin berkembang. Praktik berlangsung saat program berputar. Artinya, siswa terlebih dulu mesti menginisiasi dan menjalankan sebuah program – UWB adalah satu diantaranya – yang diikuti komitmen serta ketekunan mereka mengelolanya, secara berkelompok.

Tak cuma itu, aktivitas mestilah relevan dengan isu aktual di masyarakat. Lokal hingga internasional. Terakhir, dari segenap aktivitas ini, diharapkan siswa mendapatkan pemahaman yang baik bahwasanya setiap pilihan, juga keputusan mereka, memiliki konsekuensi yang harus dipertanggung jawabkan. Bukan hal sederhana memang.

Tak lupa, yel-yel penyemangat sebelum latihan ditutup

Saat latihan selesai, hujan telah lama reda. Sorakan yel-yel jadi penutupnya. Terdengar banyak cerita dan terlihat sarat kegembiraan di MSHS Gymnasium. Melatih bola basket bukan tujuan akhir. Para aktivis UWB sedari awal juga melatih kepekaan mereka terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.

Siswa sekolah menengah, di tengah studi mengelola organisasi terbuka, yang aktivitasnya menjangkau masyarakat sekitar, mandiri dalam pendanaan, menjalankan kaderisasi. Buat orang dewasa sekalipun, ini bukan perkara mudah. Mereka melakukannya dengan serius, namun semua terlihat berbahagia. Agaknya, sesekali kita mesti belajar dari para siswa Sinarmas World Academy.

 

Reporter: Caecario Vito, Jaka Anindita, Noveradika, Yohanes Januadi

Penulis: Jaka Anindita

Desainer Grafis: Dede Ilham F










0 Comment


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *