Breaking

WFH, Ragam Kisah Bekerja di Rumah

Sekitar Kita / Slider / June 10, 2020

Deraan pandemi Covid-19 belum ketahuan kapan berujung. Selagi berlangsung, menuju kenormalan baru, tercipta ragam kisah, juga rutinitas baru bagi mereka yang harus bekerja di rumah, dari rumah, atau work from home. Dalam kondisi yang berjalan penuh ketidakpastian, berdamai dengan situasi (bukan mengalah pada pandemi) jadi pilihan mengarunginya.

 

Selepas mencari tempat ternyaman di rumahnya, Nova Nurli Indra, Sinar Mas & Sinar Mas Land Internal Network Staff, Selasa (12/5) berkata, “Karena bulan puasa jadwal kerja kami berubah dari jam 8 pagi sampai jam 17.00. Ketentuan yang lain, pakaian kami tetap harus rapi. Tetap harus dandan lah, karena memang setiap hari atasan kami akan mengabsen anak-anaknya.” Begitu gambaran aktivitasnya berkerja di rumah, yang bermula pekan kedua April silam.

Di pagi hari, mereka akan membahas semua penugasan yang mesti dikerjakan, sementara jelang sore, “Kami meeting lagi untuk meng-update progress pekerjaan yang kami lakukan sepanjang hari.” Sebelum work from home atau WFH berlaku, bersama rekan-rekannya, ia hanya sesekali terlibat telekonferensi, namun saat pandemi, setidaknya mereka melakukannya dua kali dalam sehari. Rapat panjang mereka jumpai di hari Jumat, jelang akhir pekan. “Weekly meeting, which is dari pagi jam 9.00 sampai jam 12 atau 13 siang, kami video conference non-stop.”

Video conference dengan durasi panjang tak hanya dialami Nova seorang, Maria Claudine, Marketing Public Relation Specialist PT Smartfren Telecom Tbk. menyebut Zoom meeting dalam divisi-nya, bisa berlangsung mulai jam 09.30 pagi hingga jam sekitar jam 13 siang. “Setelah itu bisa selonjoran, memejamkan mata sebentar. Walaupun, ada saja telepon yang masuk, diikuti keharusan mengakses laptop,” kata sosok yang biasa disapa Ao dari kantornya di Jln. H. Agus Salim, Jakarta Pusat. Secara bergiliran sesuai protokol kesehatan, dirinya masih harus hadir di kantor. “Memasuki Ramadan, kegiatan kan lumayan banyak. Selain itu, ada beberapa aktivitas prosedural kantor yang memang belum bisa dilakukan dengan cara  WFH,” tuturnya.

Bagi Ao, mengandalkan perangkat virtual memang menuntaskan permasalahan kehadiran, tapi dalam dinamika kerja menjadikan koordinasi ataupun rapat harus digelar lebih sering. “Tidak bisa langsung brék, disekaliankan seperti saat hadir di kantor.” Sementara melibatkan peserta yang terlalu besar dalam sebuah rapat virtual dinilainya tidak efektif. “Membuat pembahasan semakin panjang, lari ke kanan dan ke kiri,” ujarnya diiringi tawa.

 

 

 

Bekerja di rumah tak pernah ketinggalan membahas nuansa lebih bebas dalam berpenampilan bagi mereka yang melakukannya. “Kadang berbusana gak harus rapi-rapi banget. Jika masih malas mandi pagi, nanti dulu mandinya, vicon (video conference) dulu, habis vicon baru mandi,” begitu Nova berkisah. Sementara Ao menyiasati dengan mematikan tampilan dirinya di layar, “Yang tadinya Zoom call dengan rapi, memakai lipstik. Lama-lama, ada kalanya kami tak lagi memakainya, tapi video kami matikan.”

Dalam membangun konsentrasi, Nova merasa rumah bukan tempatnya. “Kalau konsentrasi, lebih enak di kantor sih. Karena kantor memang tempat untuk bekerja. Sementara di rumah kan banyak distraction, seperti anak yang masih kecil kadang nggak mengerti ibunya sedang bekerja, malah ikutan nongkrong sambil main YouTube, dan suaranya terdengar saat kami tengah vicon,” ceritanya. Dalam perbincangan, Nova sempat memberi isyarat pada anaknya untuk jangan dulu bergabung.

Kebalikannya Ao justru tak punya kesulitan apa-apa di rumah, “Mood kerja ada di otak kita, bedanya, kali ini tubuh ada di rumah.” Ruang tamu di teras rumah menjadi lokasi favoritnya karena ia dapat bekerja sembari menyerap sinar mentari pagi, dalam suasana sepi, “Komplek tempat tinggal saya di-lockdown.” Dwita Anggiaria, Team Assistant EV Growth melakukan dengan cara yang berbeda, “Bangun pagi dan bergegas mandi sangat membantu mood.” Dirinya memilih tetap berada di kamar, kadang berlatar suara penjual sayur yang melintas di jalan depan, tak jauh dari kamarnya.

Seperti halnya Marketing Manager PT Borneo Indobara, Nattasya Azimada yang mengaku sedari jam 10 pagi sudah duduk manis layaknya tengah hadir di kantor, hingga sore menjelang, “Jadi sama saja seperti bekerja di kantor. Pakaian juga harus tetap rapi.” Video conference bersama rekannya adalah kesempatan untuk sedikit lebih santai, bisa mematikan layar video. Kala bersanding bersama direksi, klien atau customer, maupun regulator, pertimbangan sopan santun, juga profesionalisme, mengharuskan parasnya muncul di layar.

 

 

 

 Tidak semua orang menemukan tempat terbaik untuk menjalani WFH. Dwita yang menjalani WFH semenjak bulan Maret bercerita betapa bekerja di rumah kadang menyiksa tubuhnya, “Karena setting yang ada bukan tempat untuk bekerja, punggung jadi terasa sakit sekali. Kemudian, penggunaan headphones terus-menerus membuat kepala cepat pusing,” tuturnya via vicon dari kediamannya, Kamis (14/5).

Ketersediaan koneksi jaringan internet juga menjadi kisah tersendiri. Saat berada di tempat tinggalnya, Dwita memilih menggunakan perangkat telepon genggam, tethering. “Lama-lama handphone saya yang nge-drop baterainya, tidak bisa lagi terisi penuh. Sepertinya karena layar selalu aktif tanpa jeda,” ia menduga. Begitu bergeser ke kediaman keluarga kakaknya. “Kami sepakat memasang jaringan wifi di rumah. Tapi karena penggunanya bukan saya seorang, ada kakak, juga keponakan yang harus belajar di rumah, saat semua menggunakannya, koneksi nge-drop.”

Bagi mereka yang bekerja di rumah, durasi kerja turut menjadi kisah. Ao merasakan WFH memberi sensasi durasi kerja yang lebih panjang karena di luar rapat-rapat maraton yang rutin ia lakukan bersama rekannya, masih ada, “Minimal kita either Zoom atau Google Meet dua kali guna melakukan update daily activity.” Demikian pula Dwita, “Mungkin karena dari awal kantor kami memang beroperasi secara remotely, satu di Jakarta, satunya di Singapura. Sedari awal atasan telah memberi kebebasan jajarannya untuk bekerja dari mana saja. Bahkan jauh sebelum pandemi, mereka sudah cukup sering bekerja dari rumah. Berbasis cloud business, sampai ke approval dan signature saja kami menggunakan digital sign. Akhirnya, mau di kantor ataupun di rumah, sama saja sibuknya,” Dwita berkisah.

Menurut Nattasya yang sejak 18 Maret sudah menjalani protokol WFH, dirinya merasakan selama bekerja di rumah, timbul anggapan dari rekan kerja (termasuk atasan) bahwasanya ia dapat dan siap dihubungi kapanpun. “Padahal dalam situasi kerja normal, hal ini tak terjadi. Mungkin mereka berpikir, bagaimana bisa sukar dihubungi jika tengah berada di rumah,” ceritanya diikuti senyum. Belum lagi berkurangnya pertemuan berikut komunikasi lisan membuat banyak hal mesti disampaikan secara tertulis. “Report harus dibuat semakin detil, akurat, tapi mudah dipahami.”

 

 

Sementara Nova malah tidak merasakan hal itu. “Menurutku jam kerja terasa sama saja karena ada hal-hal lain di luar pekerjaan yang tetap bisa dilakukan saat bekerja, baik di kantor ataupun di rumah.” Justru perasaan senantiasa diawasi kerap melanda. “Kalau di kantor, dengan beban kerja yang sama, tidak ada perasaan seperti tengah diamati. Sementara jika di rumah seperti selalu dipantengin,” ujarnya.

Video conference berkepanjangan punya konsekuensi tambahan. Peserta harus fokus dengan tabahnya, tanpa punya kesempatan menyelesaikan tugas-tugasnya yang lain, padahal pembahasan seperti kata Ao: suka ke kanan dan ke kiri. Sementara tugas lainnya praktis masuk antrean, alias jangan coba-coba multitasking. “Jika sampai tidak fokus, kemudian mendapat pertanyaan dan tidak bisa, atau terlambat menjawabnya karena sedang mengerjakan hal lain, kan zonk juga,” kata Nova.

Tapi bukan berarti rapat virtual hanya memberikan kesukaran baru di tengah kenormalan baru. Jikalau mampu mengelola segala bentuk rapat dengan baik,  peserta akan memetik hasilnya, seperti yang dirasakan Nattasya. “Efektif, karena on time. Kedua, semua berlangsung to the point tanpa basa-basi.”

Perbedaan sensasi yang dialami Nova, Ao, Dwita, dan Nattasya dibenarkan oleh psikolog klinis Eka Hospital BSD, Reynitta Poerwito (14/5). “Banyak hal yang sebelumnya tidak kita temui ketika bekerja di kantor, dan tidak semua orang merasakan dampak yang serupa dari bekerja di rumah. Akan sangat tergantung pada bagaimana mereka merespon situasi tersebut.” Menurutnya permasalahan, dalam diri setiap orang membutuhkan solusi yang unik dan berbeda, dengan terlebih dulu melihat akar permasalahannya.

 

 

Guna membangun mood, Reynita merekomendasikan agar setiap persona memiliki jadwal kegiatan sebagai pedoman menjalani hari. “Agar kita tahu apa yang akan kita lakukan. Tidak sampai terlena, keenakan berada di rumah. Bukankah aktivitas kita di kantor juga terjadwal, di mana kita tahu persis jam berapa mesti berada di sana, kapan mulai bekerja, kemudian makan siang, kembali bekerja, kapan saja harus meeting,” ucapnya. Ketika berada di rumah, jadwal itu mengadopsi pula aktivitas domestik alias kegiatan rumah tangga di luar pekerjaan.

Pandemi adalah kejadian luar biasa, tidak ada yang pernah membayangkannya, apalagi siap menghadapinya. Itu sebabnya, jangan berharap terlalu tinggi terhadap diri sendiri. Reynitta menyarankan agar memberikan kesempatan bagi diri kita masing-masing guna beradaptasi dengan situasi tak terduga tersebut. Manakala adaptasi berlangsung, adalah sesuatu yang lazim jika hadir emosi, pikiran, maupun perilaku yang tak pernah muncul sebelumnya.

“Misalkan, biasannya bekerja di kantor dengan bersemangat, kini timbul perasaan selalu ingin bersantai kala berada di rumah. Jika biasanya jarang marah ke anak-anak, sekarang justru merasa anak-anak semakin rewel dan mudah memancing amarah. Hal semacam itu normal, muncul karena sekian lama kita tidak memberikan waktu bersantai atau berleha-leha yang memadai bagi diri kita. Lowering your expectation actually saving you from a lot of stress. Cobalah menjalani kehidupan dan aktivitas hari demi hari, mengingat kita tengah menghadapi sesuatu (pandemi) yang tidak dapat kita kontrol dan perkirakan,” urainya menganalisis.

Demikian pula dalam menghadapi perasaan akan jam kerja tak berujung maupun sensasi layaknya tengah diamati tanpa henti sepanjang WFH berlangsung. “Mungkin adanya video conference kita persepsikan sebagai terkontrolnya kehidupan kita oleh orang lain. Artinya, bukan situasi yang menimbulkan tekanan dalam diri kita, namun pikiran kita yang mengakibatkannya. Untuk dapat melaluinya, kita mesti terlebih dulu menerima memang demikian kenyataan yang ada, dengan begitu kita akan lebih tenang. Toh kita mendapatkan keuntungan lain dengan adanya WFH, misalnya tidak perlu bangun terlalu pagi, bermacet-macetan ke kantor, atau tiba di rumah larut malam.”

 

 

Berikut lebih bebas berbusana maupun berpenampilan. Untuk yang satu ini, Reynitta mengatakan agar tidak mengabaikan budaya kerja masing-masing. Tidak ada salahnya sebelum memasuki rapat virtual, kita lebih dulu mencari tahu, “Ada dress code kah? Siapa sajakah yang hadir?” Tujuannya agar busana dan penampilan kita merepresentasikan dengan sesuai sosok kita dalam rapat tersebut. “Sangat penting untuk memahami sekaligus mengikuti etiket, budaya, atau nilai-nilai tertentu yang memang dijunjung oleh kantor, atau pekerjaan kita,” ungkap Reynitta.

“Pada dasarnya, stress management bukanlah bagaimana kita mengubah lingkungan atau situasi di sekitar, namun lebih kepada cara mempersepsikan situasi yang tengah kita hadapi,” ungkapnya. Apakah ini berlaku untuk Nova, Ao, Dwita dan Natassya? Tidak hanya mereka, karena semua mesti beradaptasi. Atasan kita pun demikian adanya.

 

Penulis: Jaka Anindita

Kontributor: Caecario Vito, Yulrandro Dave, Victoria Ariwita

Editor naskah: Sidhi Pintaka

Desainer: Dede Ilham Fitriana

 

 




Jaka Anindita
Jaka Anindita
Pemimpin Redaksi





You might also like



0 Comment


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *