Breaking

SMART Biotech Center Menulis Kisahnya Sendiri

Breaking News / Sekitar Kita / Slider / November 27, 2018

Menjuru ke dalam, tak tampak dari jalan utama dan terasa berjarak dari keramaian di bilangan Kampung Pasir Maung. Sentul, Bogor, berkumpul ratusan orang yang berperan layaknya mata rantai penghubung. “Jika ingin menjadi yang terdepan di sebuah sektor industri, kita sebaiknya memiliki kontrol penuh dari hulu hingga ke hilir. Dalam industri kelapa sawit, ini dimulai dari benihnya,” kata Head of Plant Production and Biotechnology Division PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk., Tony Liwang memberikan gambaran awal apa yang melatarbelakangi pendirian lembaga tempatnya bertugas pada tahun 2007.

 

Tony Liwang. Produktivitas tanaman adalah satu-satunya variabel yang dapat dikontrol oleh industri. Penelitian dan pengembangan menjadi jalannya.

 

Mandat yang mereka terima adalah meningkatkan produktivitas tanaman kelapa sawit. “Karena dari sana adalah awal mula intensifikasi lahan dapat dilakukan, dan selanjutnya, praktik agribisnis berkelanjutan dapat berlangsung,” ujarnya. Berawal dari pembentukan SMART Research Institute atau SMARTRI tahun 1999 di Libo, Riau, PT SMART Tbk tidak serta merta masuk ke bidang riset dan pengembangan bibit.

“Sebagai lembaga riset yang berada di bawah naungan perusahan, kami harus terlebih dulu mengetahui di mana alokasi pembiayaan tertinggi perusahaan. Waktu itu yang pertama kami lakukan adalah riset seputar pemupukan. Karena bidang itu meliputi hingga 50 persen biaya operasional perusahaan di lapangan,” Tony mengenang. Berlangsung sepanjang tiga tahun, beragam penelitian yang dilakukan mulai terlihat hasilnya, sehingga perusahaan mampu merancang sistem serta prosedur pemupukan yang mapan dan efisien.

Tercapainya efisiensi menjadi pertanda jika para peneliti harus bergerak ke ranah berikutnya, yakni peningkatan produktivitas. “Riset dan pengembangan perbenihan di sektor perkebunan kelapa sawit bersifat jangka panjang, yang bisa mencapai 10 hingga 20 tahun ke depan, baru terlihat hasilnya,” ungkapnya.  Sementara meyakinkan manajemen adalah tantangan tersendiri, mengingat industri inti Sinar Mas Agribusiness & Foods masa itu, bukanlah di sektor perbenihan.

Namun ia dan jajarannya percaya, bagi negara terdepan di industri sawit seperti Indonesia, kemandirian pasokan bibit berkualitas mutlak adanya, hingga akhirnya manajemen perusahaan turut teryakinkan. Wahana yang digunakan kali ini adalah PT Dami Mas Sejahtera, sebuah perusahaan pemasok bibit, yang awalnya berupa joint venture dengan New Britain Palm Oil Ltd asal Papua Nugini. “Mereka memiliki pohon induk berkualitas, sehingga kami berkesempatan melakukan shortcut dalam proses pembiakan bibit,” kata Tony. Tahun 2004, Dami Mas memperoleh izin pelepasan varietas dari pemerintah, yang berarti masa menanam menggunakan bibit produksi sendiri mulai dilakukan secara bertahap oleh SMART.

Ibarat sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai, begitu pula para peneliti ini melangkah. Beres dengan pupuk dan bibit, bergegas mereka menetapkan tantangan baru lagi. “Kami coba memasuki era baru dalam industri perbenihan, yaitu bioteknologi. Melalui rekayasa kultur jaringan, kami tidak lagi bergerak dari persilangan benih tapi langsung mengkloning tanaman. Mungkin langkah semacam ini belum lazim di industri kelapa sawit, tapi teknologi, tenaga ahli, hingga tanaman yang dibutuhkan, semua telah tersedia,” kata Tony menceritakan asal-usul hadirnya SMART Biotech Center tahun 2007.

“Riset kultur jaringan tidak sederhana. Harus ditopang oleh bioteknologi karena akan terkait dengan aktivitas genetical engineering. Gen dari setiap tanaman yang terpilih untuk dikloning mesti terlebih dulu terpetakan. Kita boleh berbangga menjadi satu dari sedikit perusahaan yang memiliki peta genetik kelapa sawit secara menyeluruh,” tuturnya menjelaskan landasan keberhasilan SMART melepas varietas yang dinamakan Eka 1 dan Eka 2 dari hasil analisis serta rekayasa genetika.

Yang membahagiakan dirinya, tak lama setelah SMART meluncurkan varietas unggul tadi, perusahaan sejenis lain banyak yang terdorong melakukan penelitian dan pengembangan bioteknologi. ”Harga komoditas tidak akan naik secara berlebih, padahal biaya produksi secara bersamaan meningkat signifikan.Produktivitas menjadi satu-satunya variabel yang dapat kita kontrol, dan di sana pertarungan sesunguhnya akan terjadi,” kata pria yang aktif membagi pengalamannya dengan menjadi dosen tamu di sejumlah universitas yang ada di Eropa serta Asia ini.

Jika Biotech Center disebut tempatnya sosok cerdik-pandai berkumpul, merujuk pada strata pendidikan sumber daya yang ada di sana, harus diakui memang demikian adanya. Di antara 167 orang karyawan yang bertugas, terdapat 4 orang berpendidikan strata 3, sebanyak 31 yang menyandang gelar strata 2, bersama 13 rekannya yang berpendidikan strata 1.

Research Officer Genomic and Transcriptomic Section, Andree Sunanjaya Kusnandar, salah seorang dari 30 peneliti di SMART Biotech Center adalah satu di antaranya. “Kami bertugas merancang dan menjalankan penelitian DNA kelapa sawit guna mendapatkan varietas yang unggul,” ujar pakar bioteknologi yang telah menuntaskan studi pasca sarjananya di Genetics and Genomics Graduate Program, Iowa State University, Amerika Serikat ini.

Meneliti DNA kelapa sawit menurutnya memiliki daya tarik sekaligus tantangan tersendiri, Andree mengungkapkan, kelapa sawit adalah tanaman tahunan, berbeda dengan tanaman pertanian atau perkebunan lain yang daurnya lebih singkat. Hasil penelitian tanaman ini praktis baru terlihat setelah melewati waktu yang cukup lama.

 

Tony Liwang mendampingi President Director PT SMART Tbk., Daud Dharsono saat memperkenalkan Eka 1 dan Eka 2 di Hotel Pullman, Jakarta (22/5), yang menandai terdaftarnya kedua bahan tanam klonal unggulan itu dalam Katalog Bibit Indonesia. Artinya penggunaanya secara komersial, sekaligus meluas segera dimulai.

 

Di sisi lain, sawit adalah tanaman penghasil minyak nabati yang paling efisien, sehingga setiap upaya pengembangannya akan sangat bermanfaat, tak saja bagi Indonesia, tapi juga dunia. Itu membuat dirinya bersama rekan-rekannya sesama peneliti melakukan beragam proyek penelitian sekaligus, “Selagi menanti hasil sebuah penelitian terlihat, dimana waktunya cukup lama, kami meneliti hal lain,” ungkap Andree yang telah bertugas di sana sejak tahun 2009.

 

Andree Sunanjaya Kusnandar. Penelitian dan pengembangan kelapa sawit bermanfaat tak hanya bagi Indonesia, tapi juga dunia.

 

Sejalan dengan Andree, ada rekannya Asri Sahara, Research Officer Clonal Technology Section yang bertanggung jawab menggelar penelitian guna meningkatkan produktivitas kultur jaringan. Ia bersama rekan-rekannya berbagi peran, mulai dari meneliti media tanam, materi kimia yang paling efektif dalam proses pengembangan kultur jaringan, sampai ke pengamatan kromosom guna mendeteksi jaringan yang tak normal. “Temuan tumbuhan yang tak normal kami rekomendasikan agar tidak sampai diperbanyak di tahap subkultur,” urai Asri yang bersama dua peneliti rekannya setiap hari mesti mengorganisasi sebanyak 17 orang teknisi. Ia berpendapat, hal terbaik selaku peneliti adalah dukungan lembaga, sehingga eksplorasi bisa dilakukan dengan maksimal, dan hal itu mereka dapatkan selama ini.

 

Asri Sahara. Sebaik-baiknya peneliti, adalah yang mendapatkan dukungan penuh lembaga.

 

Di pusat riset bioteknologi, jangan buru-buru menganggap hanya pendekatan teknologi mutakhir semata yang diagungkan. Karena nyatanya, sepanjang hari, para peneliti harus menyandingkan peralatan, pengetahuan serta inovasi terkini dengan kecermatan tangan berikut kejelian pengamatan mereka. “Kami rerata menyeleksi 1.300 ramet (tumbuhan baru) setiap jam, menggunakan serangkaian kriteria,” kata Research Officer Culture Selection Section, Muhammad Haekal Mirraji yang bertugas melakukan perencanan serta pengawasan produksi, sekaligus memimpin hingga 74 orang anggota seksinya.

 

Haekal. Setiap saat. selalu saja ada hal baru.

 

Di relung Light Room, salah satu wilayah yang menjadi tanggung jawabnya, lamat-lamat terdengar alunan lagu. Dengan rentang kerja per hari sepanjang delapan jam, sudah barang tentu potensi melesetnya pengamatan manusia tadi juga ada. Di sinilah peran dan juga kemampuan mereka untuk saling mendukung dan berbagi jadi begitu penting. Begitu pula dengan kemampuan memimpin. “Kultur jaringan adalah sesuatu yang unik karena sel dengan perlakuan tertentu dapat berkembang menjadi tanaman,” ujar sarjana biologi yang kini menjalani tahun ke-5 nya di Sentul mengisahkan mengapa dirinya senantiasa menemukan hal baru.

Sebagai peneliti, mereka senantiasa memiliki cara untuk mengalahkan kebosanan tadi. Mengandalkan kecermatan tangan dan pengamatan, “Kami harus saling memotivasi rekan kerja mengingat bentuk aktivitas ini rentan memunculkan kebosanan, sementara target pemilahan sedapat mungkin mesti terpenuhi,” ungkap Research Officer Culture Processing Section, Syifaur Rahmah, yang harus memimpin timnya memilah setiap ramet yang dihasilkan.

Dirinya mengaku, kultur jaringan adalah hal yang menjadi ketertarikannya sekian lama, itu sebabnya kebosanan jarang menghampiri sarjana bioteknologi satu ini. “Tidak ada bosannya, karena sudah suka sejak awal. Jadi sebosan apapun, tekanan seperti apapun, jika sudah melihat kultur jaringan, selalu terhibur, Bentuknya yang aneh, berbeda, mirip berbagai macam benda, membuat saya bisa tertawa sendiri,” akunya. Kalau kebosanan masih berani muncul, jangan khawatir. Masih ada bantuan alunan musik dan lagu untuk menyingkirkannya.

 

Syifaur Rahmah. Terhibur melihat bentuk kultur jaringan yang berbeda-beda dan aneh.

 

Terpisah dari hiruk pikuk kota Jakarta dan Bogor yang mengapitnya, tempat ini menjadi mata rantai pertama – di hulu – yang mengawali kisah bagaimana SMART menjalankan industri perkebunan sawit terintegrasi. Sepintas terkesan senyap, tapi banyak inovasi dan kegembiraan di sana. Layaknya buku yang belum lagi tuntas ditulis, masih ada banyak kisah menyusul dari sana.










0 Comment


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *