Breaking

Sebuah Himne, Beragam Versi

Cover Story / Slider / February 26, 2020

Dendang Love Changes Everything dalam pementasan Aspects of Love besutan Andrew Lloyd Webber, tigabelas tahun silam menjadi kausa hadirnya Himne Sinar Mas gubahan Vincentia Arie, berisikan vokal Vincent Hakim. Kini, Hugo Agoesto dan Ricky Lionardi menyemai ide dari lagu-lagu tema di film The Greatest Showman, menghadirkan alunan Mariska Setiawan menyuarakan aransemen anyar himne tersebut. Berandai-andai, akan seperti apa jadinya jika himne yang sama kembali direvitalisasi. Mungkinkah?

Sangat mungkin dengan merujuk pada tujuan yang hendak disasar, tanpa melupakan fungsi dari himne tadi. “Tergantung pada visi perusahaan. Dari sisi estetika tidak ada masalah selama memang ada kebutuhan untuk itu,” kata Ketua Program Studi Diploma Seni Musik di Institut Kesenian Jakarta, Pri Ario Damar. Dari sisi teknis, mars atau himne yang punya waktu tayang lebih panjang daripada jingle, memberikan ruang lebih leluasa bagi penulisnya untuk mengeksplorasi unsur kata-kata di dalamnya. Menurutnya, hal ini penting karena logika bahasa Indonesia cenderung membuat susunan kalimat menjadi lebih panjang.

 

 

Padahal, seperti disampaikan Ribut Cahyono, psikolog sekaligus musisi, dalam menggubah lagu untuk perusahaan, “Pilihan kata yang digunakan sebaiknya formal karena harus membahasakan pesan yang jelas dan kuat.” Kalau sang komposer mampu menyiasati hal tadi, peluang menghadirkan lebih dari satu aransemen berlandaskan lirik yang sama terbentang sudah. “Sebuah lagu berfungsi menguatkan suasana yang tengah dibangun. Sementara aransemen lagu tersebut, biasanya lekat ke suasana tadi. Tidak untuk berbagai suasana,” papar Ribut yang akrab dipanggil Ibut.

Misalkan, untuk keperluan pemutaran di lobby atau kabin lift misalnya, Himne Sinar Mas sangat mungkin menggunakan versi instrumental tanpa vokal. “Bagi mereka yang sudah tahu lagu dan liriknya, penanaman nilai-nilai yang terkandung berlangsung di bawah sadar, subliminal. Jadi biarkan mereka ikut bersenandung,” saran Ibut. Sementara untuk keperluan pengenalan bagi karyawan baru, di mana penanaman nilai berlangsung via intervensi, dapat memutar versi lengkap nan megah.

Dirinya melihat, baik versi orisinil maupun yang baru tetap dapat saling melengkapi, “Keduanya dapat digunakan dalam kesempatan yang berbeda. Versi klasik diperdengarkan bagi karyawan, di ruangan board member. Sementara yang baru dan lebih pop, diputar bagi umum, di mana perusahaan akan dimaknai sebagai lembaga yang selalu sesuai dengan keadaan zaman.”

 

Untuk keperluan yang berbeda, Hugo (kiri) dan Ricky menyediakan beberapa versi himne.

 

Secara terpisah, duet Hugo Agoesto dan Ricky Leonardi tampaknya menangkap hal serupa ketika proses penggubahan berlangsung. Itu sebabnya, dalam penggarapan yang menghadirkan sejumlah session musician  seperti gitaris Andre Dinuth, kibordis Vinson Vivaldi, basis Glory Sariang, bersama drummer Dimas Pradipta dan choir leader Willy Poliman, mereka tak saja menuntaskan himne dalam versi bahasa Indonesia maupun Inggris, namun menyediakan pula yang berbentuk alunan instrumental.

Saat ini, belum perlu berfantasi terlampau jauh, membayangkan di satu masa, Sinar Mas memiliki sejumlah versi himne, baik yang bergaya dark pop seperti Dua Lipa, gothic rock ala Evanescence, campursari layaknya Didi Kempot, folk mirip Leo Kristi, dan beberapa lainnya, untuk beraneka keperluan. Tapi bahwasanya Sinar Mas nanti dilengkapi dengan seperangkat himne yang punya aransemen serta sound berbeda, mengapa tidak?

 

 

Sore jam 17, saat sebagaian besar karyawan yang berkantor di Sinar Mas Land Plaza Jakarta mulai mengakhiri aktivitasnya dan bergegas menuju kabin lift yang tersedia, terdengar lesatan vokal Mariska Setiawan menyertai mereka. Berbeda saat kali pertama Himne Sinar Mas versi baru mengudara dalam kabin lift dan lobi utama pada hari Kamis, 9 Januari 2020, yang terdengar lamat-lamat ketika itu, sekarang gita puja satu ini terdengar pas. Telinga para pendengar tampaknya mulai terbiasa, sementara awak ruang kendali manajemen gedung telah menemukan pengaturan yang sesuai. “… Terus berbakti membangun negeri, ‘tuk Indonesia, Ibu Pertiwi…”

 

 

SMILE Magazine edisi ke-20. Bagian terakhir dari enam artikel

Penulis: Jaka Anindita

Kontributor: Yulrando Dave, Kikit Sakti Helaz, Andri Riza

Editor naskah: Sidhi Pintaka

Foto: RL Studio (Nicolaus Victor)

Desain: Dede Ilham Fitriana




Jaka Anindita
Jaka Anindita
Pemimpin Redaksi





You might also like



0 Comment


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *