Breaking

Siang Hari di Roxy Mas: Memfasilitasi Hasrat Warga untuk Ngemal

Breaking News / Sekitar Kita / Slider / July 3, 2020

Siang hari ramai pengunjung sudah menjadi keseharian di ITC Roxy Mas, Jakarta Barat. Namun jika itu terjadi pada hari ketiga semenjak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan masa transisi, atau persisnya Pembatasan Sosial Berskala Besar Masa Transisi, butuh upaya lebih mengelola arus pengunjung yang datang. Rabu (17/6), jam 14 siang, sebelum dapat memasuki gedung, pengunjung harus melalui antrean berkelok dan berjarak. Hadir tanpa mengenakan masker, jangan berharap diizinkan masuk, sementara mencuci tangan dengan sabun menjadi keharusan sebelum melalui pemeriksaan suhu tubuh.

Butuh kesiapan khusus agar protokol baru dapat berlangsung lancar, “Kami dari manajemen telah bersiap melalui Road to Re-opening di seluruh ITC. Mulai dari kesiapan gedung, pengelola, tenant, hingga pengunjung,” ujar ITC Roxy Mas Department Head, Agnes Fariati, Rabu (17/6) disela kesibukannya. General cleaning, berupa disinfeksi berikut pengujian seluruh fasilitas juga peralatan pendukung seperti aliran listrik hingga ke seluruh trafo yang ada, genset pembangkit daya, kelengkapan pemadam api, sensor serta alarm keamanan hingga ke sarana transportasi seperti tangga berjalan dan lift, berlangsung seksama. Hal ini mengingat gedung sempat berada dalam kondisi nyaris tanpa aktivitas selama pemberlakuan PSBB, semenjak 10 April hingga 14 Juni.

 

Air mengucur setelah pedal diinjak. Masih banyak pengunjung yang kebingungan, mencari pegangan keran.

 

Pembatasan Munculkan Inovasi

 

Bagi para tenant yang sekian waktu menanti untuk dapat kembali beraktivitas, ada sosialisasi meliputi seluruh regulasi dari pemerintah, baik pusat maupun daerah, gugus tugas, berikut aturan main dari pengelola gedung. “Karena pembatasan tak lebih dari 50 persen, selain berlaku bagi jumlah pengunjung, juga meliputi jumlah tenant dan karyawannya. Mereka harus mengenakan masker, memakai face shield, termasuk menandatangani pakta integritas yang menyatakan mereka bebas Covid-19,” ungkap Agnes. Langkah pencegahan standar seperti mencuci tangan dengan sabun, pengecekan suhu, sudah barang tentu harus mereka lalui.

 

 

Mengingat tingginya antusiasme warga pihak ITC sampai membuat alat pencuci tangan dengan pedal untuk mengucurkan air, agar sentuhan tangan dapat ditiadakan. Demikian pula dengan mesin tiket di pintu masuk mal dan apartemen. Agnes menyebut, pihaknya merekayasa proses pengambilan tiket kendaraan tanpa harus menekan tombol. Cukup dengan isyarat atau gerakan tangan, tiket keluar. Bahkan tombol lantai dalam kabin lift pun tengah dimodifikasi. Di dalam lift, jangan mencoba berdesakan lebih dari 5 orang, berapapun bobot tubuhnya. Sensor yang terprogram di dalamnya hanya mengizinkan lift bergerak bila berisikan 5 penumpang atau kurang.

 

Jika terjadi antrean di fasilitas pencuci tangan, masih ada cairan pembersih tangan.

 

Cara berbelanja dan interaksi antar penjual, konsumen dan pengelola gedung turut pula direkayasa. “Kami meminta tenant mulai memanfaatkan platform QRIS (QR Code Indonesia Indonesian Standard) yang disediakan Bank Sinarmas, untuk pembayaran listrik misalnya. Menerangkan bagaimana caranya ke para tenant memang membutuhkan upaya, mengingat sebagian dari mereka adalah UMKM. Ini menjadi tantangan bagi kami untuk mengajak mereka semakin melek teknologi,” papar Agnes. Ketat sekaligus kreatif, demikian adanya.

 

Songsong Kenormalan Baru dan Disrupsi Teknologi

 

Saat keputusan memberlakukan transisi menuju kenormalan baru, di antaranya dengan memulai aktivitas mal atau pusat perbelanjaan secara terbatas, harapan yang muncul adalah kembalinya geliat sosial dan ekonomi. Setelah sepanjang protokol PSBB berjalan, pendapatan para penyewa lesap dengan besaran beragam, menggeliatkannya butuh cara. “Untuk pembayaran biaya perawatan gedung periode April hingga Juni kami berlakukan keringanan atau diskon, sementara denda keterlambatan pembayaran dalam periode yang sama kami tiadakan.”

 

Manakala tiga anak tangga adalah jarak aman.

 

Tak sampai di situ, solusi berwarnakan adaptasi terhadap kenormalan baru sekaligus disrupsi teknologi turut hadir, yakni dengan inisiasi akun resmi ITC di platform belanja digital Tokopedia. “Tenant yang sebelumnya telah menjalankan bisnis online, tetap dapat bertransaksi, mengambil dan mengirimkan barang mereka, hanya saja sekarang sudah tersedia gerai resmi atau official store.” Keberadaan toko resmi semacam ini diharapkan bisa membantu tenant bila mana sampai terjadi pembatasan berskala besar seperti sebelumnya. “Mereka tetap dapat berjualan sekalipun mal tengah tutup. Selain itu, kehadiran tenant dalam sebuah official store membuat  mereka lebih dilirik oleh konsumen,” tambah Agnes.

 

 

Manajemen ITC melihat minat tenant untuk bergabung cukup tinggi meskipun sosialisasi baru saja dimulai, dan mereka tengah disibukkan dengan toko fisik mereka yang lama tutup. Saat melewati meja customer service yang kini berlapis layar bening untuk menghindari kontak fisik, Agnes mengingatkan rekannya yang tengah bertugas menerima para tenant dengan ragam urusan mereka. “Untuk keperluan apapun, jangan lupa ingatkan supaya mem-follow akun resmi ITC di Tokopedia.” Mesti begitu, karena ITC berharap sedikitnya 50 persen tenant yang ada akan tergabung dalam market place ini.

 

Mesin tiket pun turut menjaga jarak dan menghidari sentuhan, touchless.

 

Bagian pertama dari dua tulisan

Penulis: Jaka Anindita

Kontributor: Caecario Vito, Victoria Ariwita, Yulrandro Dave

Editor naskah: Sidhi Pintaka

Foto: Noveradika Priananta

Grafis: Dede Ilham Fitriana




Jaka Anindita
Jaka Anindita
Pemimpin Redaksi





You might also like



0 Comment


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *