Breaking

82 tahun Sinar Mas: Bicara Inovasi di kala Pandemi

Breaking News / Sekitar Kita / Slider / October 21, 2020

Menjadikan pandemi Covid-19 sebagai momentum memperkokoh budaya inovasi, menyempurnakan rantai pasok, sekaligus menjangkau potensi ekonomi masyarakat luas menjadi bahasan dalam peringatan hari jadi ke-82,  yang persisnya jatuh pada 3 Oktober. “Dalam hidup ini, kesehatan adalah prioritas utama, ekonomi selanjutnya, dan bila keduanya tak terpenuhi, akan timbul berbagai permasalahan sosial,” ujar Sinar Mas Board Member, Franky O. Widjaja saat mengawali forum dialog bertajuk Innovation for the Future, Economic Outlook: Peran Swasta dalam Pemulihan Ekonomi menuju Indonesia 2021, yang berlangsung virtual, Kamis (8/10/2020). Menurutnya, situasi terkini adalah kesempatan bagi Sinar Mas menguji diri, bagaimana keberlanjutan usaha dapat tetap berlangsung, dan seluruh karyawan terjaga mata pencaharian beserta kesehatannya.

 

 

Hadir dalam forum, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani, Rektor Universitas Indonesia, Ari Kuncoro, Ekonom Senior INDEF, Aviliani, Managing Director Sinar Mas, G. Sulistiyanto, bersama Duta Besar RI, Suryopratomo yang menjadi moderator. Pandemi menurutnya juga bentuk ujian bagi kepedulian terhadap sesama,  yang direspon kalangan usaha, melalui Kadin, dengan sedari awal menggagas penyaluran peralatan kesehatan senilai Rp650 miliar berikut donasi suplemen kesehatan bagi para petugas medis lewat Pengusaha Peduli NKRI. ”Banyak kebijakan maupun inisiatif yang dilakukan oleh negara besar dalam menghadapi pandemi, melalui kucuran dana yang sangat besar hingga mencapai triliunan dollar AS. Indonesia tidak memiliki dana sebesar itu namun memiliki kebersamaan, yang mudah-mudahan membantu kita melalui krisis ini.”

 

kesehatan adalah prioritas utama, ekonomi selanjutnya, dan bila keduanya tak terpenuhi, akan timbul berbagai permasalahan sosial

 

Pertimbangan mendahulukan kesehatan pula yang menjadikan Sinar Mas terus bergerak. Setelah inisiatif Pengusaha Peduli NKRI mendonasikan peralatan  pelindung diri, uji cepat, serta ventilator, G. Sulistiyanto yang menjadi koordinanor gerakan tersebut mengenang, “Berikutnya, Pak Franky dan Pak Teguh (Sinar Mas Board Member, Teguh Wijaya) menggagas donasi obat herbal Lian Hua yang hingga kini sudah tersalurkan lebih dari 1 juta kapsul kepada karyawan kami, maupun masyarakat luas, dengan menggandeng Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, juga Kadin.” Belakangan pihaknya bersama para tokoh masyarakat dan industri bergabung dalam Gerakan Pake Masker yang aktif melakukan donasi serta kampanye publik akan pentingnya pemakaian masker yang benar. “Karena vaksin yang dapat kita akses saat ini adalah mengenakan masker dengan baik, berikut mematuhi protokol kesehatan,” ujar Sulistiyanto mengenai gerakan yang telah mendapatkan restu dari Presiden Joko Widodo ini.

 

 

karena vaksin yang dapat kita akses saat ini adalah mengenakan masker dengan baik

 

Menaikkelaskan UMKM

 

Aviliani mengidentikkan inovasi dengan akses ke pemodalan, teknologi serta sumber daya manusia, yang justru tidak dimiliki oleh usaha mikro kecil dan menengah. Dirinya menilai apa yang dilakukan sejumlah pilar bisnis Sinar Mas melalui program Desa Makmur Peduli Api, menggandeng UMKM setempat masuk ke dalam rantai pasok perusahaan sebagai sebuah contoh inovasi menaikkelaskan UMKM yang belum banyak dilakukan perusahaan lain. “Pendampingan yang dilakukan mampu meningkatkan pendapatan UMKM secara signifikan, bahkan mereka berbangga hati karena bisa membayar pajak, dan meninggalkan praktik perambahan hutan,” ujarnya mengambil contoh langkah APP Sinar Mas melalui PT Wirakarya Sakti di Tanjung Jabung Barat, Jambi melibatkan badan usaha masyarakat sebagai pemasok pupuk mereka.

 

 

Aviliani menyarankan pemerintah melalui UU Cipta Kerja yang baru saja disetujui dapat menyediakan skema insentif bagi perusahaan beserta UMKM yang mampu bersinergi dalam rantai pasok. “Selagi peraturan turunannya belum keluar, perlu ada insentif kepada perusahaan dan UMKM yang mau bersinergi.” Dengan demikian UMKM tidak lagi dianggap selaku pihak pedagang semata, namun berkesempatan meningkatkan nilai tambahnya dengan masuk ke dalam supply chain korporasi.

 

perlu ada insentif kepada perusahaan dan UMKM yang mau bersinergi

 

Hal itu menurut Franky sejalan dengan inisiatif sektor usaha di bawah naungan Kadin lewat ajang Jakarta Food Security Summit – yang akan memasuki penyelenggaraan ke-5 tahun ini – yakni dukungan pendanaan berkesinambungan melalui skema keuangan inovatif yang menghubungkan para petani, koperasi, perusahaan penyerap produk petani (offtaker), berikut penjamin pendanaan (avalist) dan perbankan. “Ada sisi permintaan, ada pendampingan, good agriculture practice, termasuk science based agriculture, yang semua menjadi kesatuan.”

 

Belajar dari Korea Selatan

 

Sementara Rektor UI, Ari Kuncoro mengilustrasikan tingkat kesejahteraan masyarakat di suatu negara tak hanya bersandar pada kekayaan sumber daya alam, melainkan juga pada kualitas sumber daya manusia serta tingkat inovasi, berbasis pada kekuatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tata kelola kelembagaan, atau dikenal sebagai pertumbuhan ekonomi endogen (endogenous economic growth) yang diperkenalkan oleh ekonom Paul Romer. Rektor mengambil contoh bagaimana Korea Selatan yang pada akhir dekade 70-an melakukan pembangunan dengan memadukan intervensi pemerintah melalui proteksi, insentif, berikut subsidi bagi pelaku industrinya agar mampu bersaing di kancah internasional. Cara ini  dilakukan pula oleh Indonesia, hanya saja, Korsel tak berhenti sampai di situ.

 

dana riset yang mengalir ke perguruan tinggi, menjadikan kampus sebagai pusat litbang yang ekonomis, penghasil beragam paten yang dicari industri

 

Mana kala instrumen tersebut tak lagi sesuai dengan ketentuan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), apa lagi kemajuan perekonomian memunculkan aspirasi peningkatan upah pekerja yang membuat rezim buruh murah tak lagi berdaya saing, mereka berinovasi mengefisiensikan birokrasi, infrastruktur serta kegiatan penelitian dan pengembangan yang berbasis pada perguruan tinggi. Menurut Ari, dana riset yang mengalir ke perguruan tinggi, menjadikan kampus sebagai pusat litbang yang ekonomis, penghasil beragam paten yang dicari industri. Hasilnya, Korea Selatan adalah salah satu negara berorientasi ekspor paling sukses di dunia. Langkah pemerintah menggandeng kampus beserta sektor industri menurut Ari lazim dikenal dengan sebutan triple helix.

 

 

Tak cukup sampai di sana, Korsel memasuki pula industri kreatif dengan mengekspor budaya mereka mulai dari makanan, musik, film, hingga gaya berbusana, semua dikemas saling terhubung. “Dalam sinetron kita dapat melihat ada kuliner khas, gaya berpakaian, k-pop, tujuan wisata andalan, semua dilengkapi teks berbahasa Inggris – hal yang tak dilakukan oleh tayangan serupa asal Jepang maupun Tiongkok.” Cara seperti itu membuat produk budaya mereka menyebar, digandrungi di seluruh dunia. Dalam webinar yang dihadiri lebih dari 500 viewer via aplikasi video conference Zoom dan tak kurang dari 2.500 orang lainnya menyimak lewat Youtube live streaming ini, Ari meyakini, soal kreativitas, Indonesia tidak kalah dengan Korsel, namun budaya inovasi belum lagi kuat terbangun, sehingga ia melihat, sektor industri seperti Sinar Mas, dapat mengadopsi skenario sukses yang dilakukan Korsel.

 

Bukan perkara sederhana, namun Franky mengingatkan Sinar Mas memiliki landasan untuk melakukannya, “Yang diberikan oleh Pak Ekta Tjipta Widjaja, saat 82 tahun silam, di usia 15 tahun memulai bisnis pada masa penjajahan, ketidakpastian serta gejolak, bukan hanya visi entrepreneurship, namun juga nilai-nilai ketekunan, integritas juga inovasi.”

 

 

Penulis: Jaka Anindita

Kontributor: Caecario Vito, Yulrandro Dave

Desain grafis dan foto: Dede I Fitriana, Sidhi Pintaka




Jaka Anindita
Jaka Anindita
Pemimpin Redaksi





You might also like



0 Comment


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *